Apa Yang Sebenarnya Menjadi Larangan
Salah satu kontroversi dalam kekristenan yang pada umumnya ada pada semua aliran adalah Apa Yang Sebenarnya Menjadi Larangan
Dimanapun disemua aliran gereja, tentu kita sering mendengar berbagai macam jenis larangan mengenai jangan pakai ini, jangan pakai itu, jangan makan ini, jangan makan itu, jangan begini, jangan begitu, harus begini, harus begitu, serasa hidup ini layaknya seperti tentara saja.
Umumnya, segala macam larangan dalam gereja Kristen dilakukan sebagai bentuk iman yang merupakan adopsi nilai-nilai budaya dari mana Kekristenan itu berasal.
Akan tetapi banyak juga aliran gerejawi yang mempraktekan segala bentuk ritual keagamaan dengan cara yang benar-benar sacral atau seakan praktek tersebut tidak boleh dilanggar. Jika dilanggar, maka akan memiliki konsekuensi iman.
Dalam iman Kristen, segala bentuk ritual adalah ekspresi manusia dalam hal memuliakan Allah. Itu bukanlah suatu keharusan.
Namun, beberapa bentuk ritual memang dianjurkan untuk dilakukan karena dianggap baik, juga semacam peringatan yang menjadi suatu ketetapan iman.
Sebagian besar ritual-ritual tersebut sebenarnya tidak pernah dipermasalahkan, selama itu baik dan disepakati sebagai bagian dari konsekuensi persekutuan.
Tapi jika itu dalam berbagai macam pernyataan yang mewajibkan, tentulah perlu ada pertimbangan tersendiri apakah itu layak atau tidak.
Begitu juga dengan segala bentuk larangan, dalam hal ini bukanlah prilaku namun semacam tradisi badani para anggota gereja.
Misalnya, larangan minum kopi, merokok, makan daging yang berdarah, hari sabat dan lain-lain. Merupakan sesuatu bentuk lain dari Apa Yang Sebenarnya Menjadi Larangan.
Rasul Paulus menekankan kepada kita mengenai segala macam ritual berbentuk larangan, sebenarnya bukanlah suatu ketetapan Allah melainkan ajaran manusia.
Kolose 2:16-17;
Kita tentu mengerti ini bukan dimaksudkan untuk membatasi sukacita manusia dalam hal berekspresi, tapi memberikan pengertian mendalam mengenai kasih karunia Allah.
Yang paling dasar dari dasar iman kita adalah kesepuluh perintah Allah. Ini merupakan hukum yang menjadi landasan dari segala hukum dan ketetapan Allah bagi umat-Nya Israel.
Yang pada hakekatnya juga menjadi dasar dari iman Kristen saat ini. Tetapi sesungguhnya kesepuluh perintah Allah merupakan gambaran suatu bentuk ketetapan Allah yang belum sampai pada tahap penggenapan.
Kedatangan Kristus adalah intisari dari ketetapan hukum yang dimaksud. Bukan menyempurnakan namun menggenapi hukum itu sendiri.
Salah satu maksudnya adalah menjelaskan pada manusia Apa Yang Sebenrnya Menjadi Larangan dan yang dikehendaki Allah bagi manusia, termasuk juga sumber dosa itu sendiri.
Kristus menjelaskan kepada manusia dari mana asal dosa dan dari mana awal mula dosa itu terjadi dan dari mana dosa itu harusnya dilarang.
Injil Matius 5:27-28;
Ayat tersebut menjelaskan pada kita bahwa sumber dosa adalah keinginan lahiryah yang mendosakan bukan hanya pada tubuh, melainkan juga roh.
Pada hukum taurat, kita bisa melihat segala hukuman terjadi ketika ada pelanggaran terhadap hukum maupun ketetapan Allah.
Seperti halnya mata ganti mata, gigi ganti gigi dan sebagainya. Semua itu adalah larangan badani yang juga memiliki konsekuensi badani pula.
Lain halnya dengan apa yang dimaksud Kristus bahwa, dosa dan pelanggaran berawal bukan saja ketika suatu akibat itu terjadi, tetapi juga mulai dari sebab pelanggaran itu terjadi.
Atau bukan saja ketika tubuh melakukan, tapi juga ketika niat hati mengingini. Sehingga bukan saja tubuh yang berdosa tetapi juga roh, terlibat dalam dosa tersebut.
Karena manusia tidak hanya ada secara lahiryah, namun memiliki roh yang berkehendak dalam eksistensi nyata manusia ciptaan Allah.
Maleakhi 2:15;
Dalam keberadaannya, tubuh dan roh terpisah secara dimensi. Dimana tubuh kelihatan, sementara roh berlaku spiritual. Dan keduanya memiliki otoritas yang berbeda secara alami. Sehingga apa yang dikendaki roh, belum tentu dilakukan tubuh.
Contoh sederhananya, ketika kita melihat seseorang yang hidupnya berkeliaran dijalan karena tidak memiliki tempat tinggal.
Secara rohani kita, ingin rasanya menolong walaupun hanya sekedar memberi tumpangan bagi gelandangan tersebut untuk sementara waktu.
Atau paling tidak membantunya mencarikan akses tempat tinggal yang layak. Akan tetapi, tubuh tidak bergerak melakukan. Sebaliknya, pikiran kita berusaha mencari pembenaran untuk tidak melakukan.
Dengan alasan semacam itulah maka Kristus mengingatkan kita, agar memahami prinsip dosa dasar dari eksistensi manusia secara penciptaannya.
Injil Matius 26:41;
Hal ini berlaku terhadap semua sikap dan prilaku manusia secara garis besar. Dan terbukti berpengaruh terhadap segala kelayakan hidup manusia dihadapan Allah.
Sumber:
Alkitab/Bible

No comments