Bagaimana Alkitab Memandang Teori Evolusi
Alkitab pastinya secara jelas mengungkapkan pertentangannya dengan teori evolusi, karena
semua hal mengenai penciptaan dunia mula-mula, sudah dijelaskan dalam kitab kejadian pasal yang pertama.
Kronologis dunia saat mulai diciptakan sampai dengan akhir, dijelaskan secara berdasar dengan banyak kesaksian dari orang-orang yang berhubungan langsung dengan tokoh agung pencipta semesta.
Kita tahu bahwa, perkembangan dunia dari zaman awal diciptakan sampai sekarang, telah menciptakan berbagai macam ideologi dan kepercayaan yang berbeda-beda terhadap segala suku, kaum, kalangan, dan bangsa-bangsa.
Berbagai macam teori berkembang, yang salah satunya merupakan teori yang paling fenomenal diabad 19 dan 20 dan dikenal dengan sebutan teori evolusi.
Teori evolusi memiliki banyak sekali keganjilan secara ilmu pengetahuan maupun logika. Kebenarannya sampai dengan saat ini, masih belum terbukti, karena hanya sebatas anggapan maupun asumsi yang terus saja dipertentangkan.
Bagaimana Alkitab Memandang Teori Evolusi, adalah sebagai sebuah dalil atau semacam penyimpangan materi keilmuan.
Alkitab secara terbuka menentang teori ini. Tentu saja, karena teori evolusi merupakan teori yang secara terbuka, menyangkal eksistensi Allah dialam semesta.
Sementara Alkitab secara kritikal, menjelaskan sebab segala mahkluk hidup dan habitatnya dirancang, ditentukan dan ditetapkan oleh Allah sendiri.
Hal ini agaknya tidak dapat diterima oleh sistem ilmu pengetahuan yang notabene menunjukan pertentangannya dengan materi spiritual.
Karena penciptaan dunia dan segala isinya, berhubungan dengan kepercayaan yang dianggap mengancam nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman umat manusia.
Dan karena sistem pendidikan dunia, tidak berbasis pada suatu kepercayaan tertentu. Tidak heran para ilmuan secara sadar, mencari dalil atau teori baru sebagai alasan untuk menyatakan keberadaan segala mahkluk tanpa intervensi suatu kepercayaan tertentu.
Jika kita melihat keberagaman segala mahkluk yang ada dibumi ini, kita akan menemukan suatu kosep rancangan sistematis dari setiap mahkluk maupun habitatnya.
Keadaan tersebut yang membuat dan secara dasar menciptakan ekosistem teratur dalam fungsi dan jaringan beragam, yang konsisten dalam kurun waktu tertentu, dan bertahan.
Sebagai contoh, panca indra manusia yang diatur dan terletak pada tubuh secara konstruktif. Begitu juga segala organ yang terkandung didalamnya.
Setiap organ tubuh kita, ditata pada letak yang kronis secara fungsinya, tanpa terganggu dengan organ yang lain, namun terpengaruh dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.
Seekor unta yang hidup dipadang pasir, diciptakan memiliki punuk sebagai organ tubuh penyimpan cadangan makanan sesuai habitatnya.
Tidak ada Harimau diafrika. Kalaupun ada, pastinya tidak berkoloni seperti harimau di Siberia. Karena diafrika ada singa yang secara seimbang menjadi lawan tanding harimau. Hal itu bisa memicu kepunahan.
Sedangkan gorila, hidup pada habitat yang berbeda tanpa pesaing. Juga segala mahkluk hidup yang ada, terangkai dalam suatu jaringan alami dan teratur.
Itu hanya sebagian contoh dari ekosistem yang terencana. Sedangkan apa yang memicu teori evolusi, adalah kejadian yang dianggap alamiah.
Secara singkat, segala hal mengenai evolusi berawal dan tercipta dari proses atom yang melebur menjadi senyawa-senyawa organik yang dianggap berkembang dan bermutasi atau berevolusi dari waktu kewaktu.
Hal yang ganjil yang bisa kita simpulkan dari teori evolusi ini adalah, terciptanya organisme yang bervariasi dan terencana.
Sedangkan atom bukanlah sesuatu yang mampu merancang, apalagi mengendalikan sifat senyawa organisme apapun.
Karena atom itu sendiri, hanyalah suatu energi yang bersifat abstrak, tidak teratur dan tidak terkendali.
Jelas saja, apapun yang tercipta akibat proses atom akan bersifat abstak pula, dan pada akhirnya mati dengan sendirinya.
Hal yang perlu dipertanyakan adalah, bisakah energi menciptakan suatu sistem yang terencana?. Tentu saja tidak, karena energi tidak memiliki kebijaksanaan.
Sementara teori evolusi yang menganggap manusia berasal dari kera, memiliki satu kelemahan fatal yang tidak mungkin bisa dijawab.
Kita semua tahu bahwa manusia melahirkan manusia lain, begitu juga segala jenis hewan, termasuk kera. Jika manusia berasal dari kera, maka mengapa kera masih ada?. Karena semestinya kera sudah tidak ada, karena sudah menjadi manusia.
Jika dikatakan manusia berasal dari jenis kera yang lain yang katakanlah telah punah, maka pertanyaannya adalah mahkluk dari jenis reptile, unggas, mamalia dan jenis hewan lainnya, menjadi mahkluk bijaksana apa?.
Maka dari itu, menjadi hal yang mengada-ada jika hanya karena kemiripan struktur tubuh, penampilan dan ekosistem, teori-teori aneh diciptakan. Sementara kebenaran, terus disangkal.
Jadi, bumi dan segala isinya, ada karena ada yang menciptakan, mengatur, mengendalikan dan memberi ketetapan. Itu tidak lain adalah Tuhan Allah Semesta Alam, Tuhan Pencipta Semesta, Yang Maha Kuasa dan Maha Esa.
Sumber :
Alkitab/Bible

No comments