Hemat Itu Merugikan Orang Kristen
Ungkapan hemat pangkal kaya, seringkali kita dengar saat masih kanak-kanak. Ini semacam pendidikan, untuk bagaimana kita meminimalkan pengeluaran demi kebaikan finansial dimasa depan.
Tidak ada yang salah dari itu, hanya saja, Hemat Itu Merugikan Orang Kristen. Selain karena prinsip hemat itu sendiri, hemat juga adalah suatu bentuk lain dari kekuatiran. Saya berikan alasannya.
Hemat sangat berbeda dengan usaha seperti menabung, investasi dan sebagainya. Hemat terkesan diperlukan, namun merugikan.
Karena hemat bisa dikatakan juga sebagai ‘’kurang dari cukup’’, berarti dengan berhemat, kita digiring pada suatu kondisi dimana iman kita seakan menjadi sia-sia.
Tidak mengherankan kalau bolak-baliknya Alkitab, tidak akan kita temukan aturan hemat, anjuran ataupun perintah bagi orang Kristen untuk berhemat.
Yang ada adalah, bagaimana kita sebagai orang Kristen, untuk perlu secara cermat mengendalikan finansial kita, yang artinya secara tepat guna.
Karena tuntutan kebutuhan hidup, kadang kita lupa akan pemeliharaan Allah, dan menyangkali kekuatan-Nya.
Munculah kekuatiran, kecemasan, dan ketakutan akan tidak terpenuhinya kebutuhan hidup dimasa depan.
Dan oleh karena itulah, kita mulai merasa perlu untuk melakukan penghematan, meski terkadang mengorbankan kebutuhan dasar anggota keluarga kita, sekalipun itu berarti, mengurangi kecukupan.
Amsal 11:24;
Bagi orang Kristen yang hidup dibawah kasih karunia, tentunya percaya bahwa, segala hal mengenai kebutuhan kita secara lahiryah, dipenuhi Allah secara cukup.
Tidak kekurangan ataupun kelebihan. Alasannya sederhana, karena kelebihan itu tidak baik, dan kekurangan juga tidak baik.
2 Korintus 8:15;
Sementara, ukuran yang digunakan mengenai kelimpahan, tergantung dari beberapa hal yang antara lain adalah iman, kesanggupan mengendalikan berkat dan komitmen kepada Allah.
Injil Matius 6:33;
Dalam hal pemeliharaan Allah, setiap orang dalam setiap keluarga Kristen, sebenarnya memiliki berkatnya sendiri secara berkecukupan.
Penghematan hanya menimbulkan keluhan yang dirasa menjadi semacam kekurangan bagi setiap anggota keluarga kita.
Juga menimbulkan penekanan kebutuhan yang tidak seharusnya ada, dan berdampak pada hilangnya keyakinan akan pemeliharaan Allah.
1 Petrus 5:7;
Orang Kristen tidak dianjurkan melakukan penghematan, namun secara tegas dituntut untuk bijaksana dalam hal mengendalikan kehidupan.
Bijaksana dalam hal ini adalah seperti halnya pendaki gunung yang mendaki gunung tanpa persiapan, bukankah itu konyol?. Atau kita tentunya tidak membeli sepuluh pasang sepatu olah raga, hanya untuk melakukan kegiatan olah raga seminggu sekali.
Bijaksana secara finansial adalah salah satu bentuk mengendalikan kehidupan, termasuk juga masa depan. Sehingga pengeluaran anggaran tidak percuma.
Hemat tidak diperlukan dalam iman Kristen, bukan saja menjadi batu sandungan dalam kehidupan kita, tapi juga menimbulkan keluhan bagi orang yang terlibat didalamnya.
Injil Matius 6:34;
Hidup dibawah kasih karunia, tidaklah cuma bergantung pada logika, tapi lebih dari itu adalah iman. Dimana kita dituntut untuk hidup menurut iman termasuk juga dalam hal-hal finansial kita.
Hal lahiryah bukanlah intisari dari alasan mengapa kita hidup. Tapi suatu subjek pokok yang ada secara alami dan harus kita jalani.
Bukan saja dalam hal materi semata, tapi segala hal termasuk apa yang akan terjadi pada kita dimasa depan, harusnya kita berserah kepada Allah sebagai pengendali kehidupan.
Tugas kita hanyalah menjalaninya secara benar, sisanya kita serahkan kepada Tuhan Allah sebagai otoritas pengendali kehidupan ini.
Sangat disayangkan jika kekuatiran kita, mengakibatkan hilangnya berkat Allah yang tanpa kita sadari, setiap orang Kristen bergantung padanya.
Sumber :
Alkitab/Bible

No comments