Apakah Inteligensi Merubah Iman
Ada pertanyaan tentang inteligensi seseorang. Apakah Inteligensi diberikan Tuhan?, Tentu saja!. Tapi Apakah Inteligensi Merubah Iman?.
Jika seseorang yang diberikan inteligen kemudian memilih untuk tidak percaya Tuhan, apakah seseorang itu dapat disalahkan, sehingga membuatnya pantas mendapat hukuman neraka?.
Inteligensi atau kemampuan berpikir adalah anugerah yang dikaruniakan Allah bagi manusia. Semua manusia diberikan karunia ini, hanya saja kuota dan kadarnya yang berbeda-beda.
Itu disebabkan banyak faktor, diantaranya pendidikan, lingkungan, keadaan hidup, yang dapat membentuk pola pikir manusia secara alami.
Tetapi perlu kita pahami bahwa, inteligensi bukanlah hikmat, melainkan karunia alami yang ada secara alamia, sebagai bagian dari fungsi tubuh.
Sedangkan hikmat, adalah karunia roh yang berasal dari roh ciptaan maupun yang berasal dari Allah sendiri, yang dianugerahkan-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Ketika inteligensi seseorang mendorongnya menjadi tidak percaya Tuhan, sesungguhnya bukanlah karena inteligensi penyebabnya, malainkan pilihan.
Karena inteligensi tidak menentukan sebuah pilihan, tetapi merancang sebuat keputusan. Roh yang ada pada manusialah yang menentukan apakan manusia itu memilih percaya Tuhan atau tidak.
Inteligensi hanya membantu mendiagnosa alasan sebuah pilihan itu dibuat. Dan mencari pembenaran terhadap keputusan tersebut.
Sementara hikmat, karena tidak lahir dari inteligensi, melainkan roh, hikmat manusia mendorong manusia tersebut secara prerogative menentukan pilihan dan mengambil suatu keputusan mutlak.
Hikmat manusia tidak menentukan apakah keputusan yang diambilnya adalah benar atau salah. Karena hikmat manusia, adalah ekspresi alami yang diwujudnyatakan.
Tanpa hikmat, tidak ada keputusan mutlak. Dan tanpa inteligensi, tidak ada pilihan yang dibuat. Keduanya saling terkait, namun berbeda secara eksistensinya.
Sekarang pertanyaanya adalah, pantaskah hikmat manusia mendatangkan hukuman apabila hikmat manusia itu menentang Allah?
Amsal 20:7;
Hikmat Allah adalah kebenaran mutlak dan memiliki dalil absolut yang tak terbantahkan. Kita tentunya pernah mendengar kisah legendaris dalam Alkitab mengenai hikmat Raja Salomo terhadap dua orang perempuan sundal (1 Raja-Raja 3:16-28).
Hikmat yang dimiliki Raja Salomo bukanlah hikmat manusia biasa, melainkan karunia Allah baginya yang bukan hanya berawal dari percaya dan takut akan Allah, tapi juga muncul dari kesadaran memahami bahwa, hanya ada satu hikmat yang absolut, yaitu hikmat yang berasal dari Allah sendiri (1 Raja-Raja 3 : 1-15).
Bisa dikatakan bahwa, hikmat menciptakkan keputusan, sementara inteligensi menciptakan pilihan. Sehingga apapun yang menyangkut pengertian dan pemahaman, dilakukan berdasarkan eksistensi dari keduanya.
Kedatangan Kristus bukanlah untuk menghakimi dunia atau merubah hukum. Melainkan memberikan kemudahan besar bagi dunia sebagai suatu tawaran.
Kristus adalah hikmat Allah yang menjadi daging manusia. Ini merupakan pilihan yang diberikan Allah kepada manusia ciptaan-Nya secara frontal.
Artinya bahwa, Allah secara langsung menyampaikan kebenaran-Nya kepada manusia tanpa perlu pengetahuan manusia itu sendiri, untuk menilai apakah sesuatu itu benar atau salah.
Dasar inilah yang menjadi pokok pilihan bagi setiap manusia secara moral, namun memiliki konsekuensi yang fatal apabila manusia itu sendiri, salah dalam menentukan pilihannya.
karena secara moral, hikmat dan inteligensi manusia, sudah memberikan pemahalan kepada manusia, mengenai mana yang baik dan mana yang tidak baik.
Namun kehendak manusia itu sendirilah yang terkadang mendorong dan memaksa manusia tersebut, mengambil keputusn yang salah, atau mengambil keputusan yang dirasanya benar.
Ini menyebabkan manusia cenderung memiliki pemikiran sendiri, dan karena kesalahan tersebut, manusia seringkali mempertanyakan kebenaran eksintensi Allah.
Hikmat Allah secara alami sudah berada pada satu sisi kebenaran yang absolut atau tidak dapat diganggu gugat.
Yang adalah intisari dari kebenaran, tanpa perlu dasar intelijensi. Sehingga manusia diberikan kemudahan dengan hanya perlu percaya, akan diselamatkan.
Maka, tidak ada lagi alasan bagi manusia, menyangkal kebenaran hanya karena karunia alamia. Tentunya Kristuslah yang menjadi pembedanya. Dan setiap orang mendapat tawaran yang sama dalam hal keselamatan.
Jadi, bukan inteligensi ataupun hikmat manusia yang merubah iman tapi hasil dari produksi keduanya yang menciptakan keinginan, sehingga manusia terus saja menggunakan karunia Allah, untuk mencari pembenaran atas penyangkalan kebenaran Allah sebagai penguasa semesta, pencipta segala yang dijadikan dan maha esa.
Maka dari itu, setiap orang harus menerima konsekuensi dari pilihan apapun yang ditentukannya, termasuk ketetapan Allah pada hari penghakiman.
Sumber :
Alkitab/Bible

No comments