Inilah Perbedaan Allah dan Tuhan
Dalam segala bahasa didunia, penyebutan kata seperti Allah dan Tuhan, itu dimaknai berbeda secara harfiah, dan digunakan untuk menyebut dua rupa entitas yang berbeda secara konsepnya.
Ini berhubungan dengan nama pencipta semesta. Namun lebih spesifik dimaknai sebagai ungkapan yang tidak diartikan secara baku. Inilah Perbedaan Allah dan Tuhan.
Allah
Kata Allah berasal dari bahasa Arab dalam harfiahnya berarti “Yang layak disembah”. Dengan kata lain merujuk pada suatu entitas yang ada dialam semesta ini, atau yang maha kuasa dan satu-satunya.
Kata Allah ini adalah kata satu-satunya yang digunakan bangsa Arab untuk menyebut suatu sosok yang memiliki kuasa tak terbatas di semesta alam.
Sama halnya dengan kata Elohim dalam bahasa Ibrani, dan Elah dalam bahasa Aram. Ketiga bahasa ini yaitu Ibrani, Arab dan Aram, adalah bahasa yang digolongkan sebagai semitik atau serumpun. Seperti halnya bahasa melayu antara Indonesia, Malaysia dan Brunei.
Kata “Al” digunakan sebagai kata sandang seperti “Sang”. Begitu juga dengan “El” dalam bahasa ibrani dan “El” yang sama dalam bahasa Aramik.
Sedangkan “lah” atau bentuk empitiknya “ilah”, digunakan sebagai penyebutan entitas tunggal atau satu-satunya, yang merujuk pada Penguasa Jagad Raya. Maka, “Al-lah” berarti “Sang-Penguasa Jagad Raya”. Atau bisa juga disebut Yang Maha Kuasa.
Kata ini kemudian diserap kedalam kosa kata bahasa Indonesia dalam arti dan penggunaan yang sama untuk menyebut “Sang Maha Kuasa”.
Kata Allah memang identik digunakan oleh umat Islam Arab sejak berdirinya Islam. Akan tetapi, penggunaan kata Allah ini sudah digunakan oleh orang Kristen Arab pra eksistensi Islam di Arab.
Bahkan sebelum Islam berdiripun, kata Allah juga digunakan oleh bangsa Arab Jahiliyah untuk menyebut suatu keberadaan yang maha kuasa.
Alasan dasar mengapa semua kaum di Arab menggunakan kata Allah, karena kata ini hanya satu yang bermakna satu-satunya atau Esa.
Tuhan
Kata Tuhan dalam bahasa Melayu berasal dari kata tuan. Buku pertama yang memberi keterangan tentang hubungan kata tuan dan Tuhan adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ (1976).
Menurut buku tersebut, arti kata Tuhan ada hubungannya dengan kata Melayu tuan yang berarti atasan/penguasa/pemilik.
Kata "tuan" ditujukan kepada manusia, atau hal-hal lain yang memiliki sifat menguasai, memiliki, atau memelihara. Digunakan pula untuk menyebut seseorang yang memiliki derajat yang lebih tinggi, atau seseorang yang dihormati.
Penggunaannya lumrah digunakan bersama-sama, disertakan dengan kata lain mengikuti kata "tuan" itu sendiri, dimisalkan pada kata "tuan rumah" atau "tuan tanah" dan lain sebagainya. Kata ini biasanya digunakan dalam konteks selain keagamaan yang bersifat ketuhanan.
Perbedaan
Mendasari perbedaan kata Allah dan Tuhan adalah pada objek penyebutannya. Allah kepada Entitas Penguasa Umum, sedangkan Tuhan digunakan untuk menyebut entitas penguasa secara khusus.
Allah bermakna keseluruhan, sedangkan Tuhan bermakna sebagian. Misalnya, jika suatu objek itu sebuah rumah, maka Tuhan itu seperti ruangan, sedangkan Allah adalah rumah itu sendiri.
Alasan mengapa orang Indonesia menyerap kata Allah kedalam kosa kata bahasa Indonesia, karena dahulu indonesia tidak memiliki kata yang sama untuk menyebut suatu entitas yang bermakna esa.
Ini sehubungan dengan zaman pra islam atau zaman para dewa. Dimana para dewa dan dewi yang disembah agama Hindhu dan Budha adalah sebagai entitas bermakna Tuhan, atau bermakna sebagian dan banyak yang berbeda-beda.
Seperti halnya, Dewa Brahma sebagai atasan penciptaan, Dewa Wisnhu sebagai atasan pemelihara, dan Dewa Shiwa sebagai atasan pemusnah.
Belum ada kaum yang memiiki pemahaman bahwa sosok yang maha kuasa itu adalah sosok satu-satunya, atau esa yang artinya tidak ada yang lain.
Ketika kemunculan Islam di Indonesia, barulah masyarakat Indonesia mengenal suatu entitas yang bermakna satu-satunya, yang disebut dengan kata Allah.
Salah satu contoh seperti halnya kata “Bengkel”. Dahulu, orang Indonesia tidak memiliki kata “Bengkel”, karena memang belum ada yang namanya Bengkel.
Ketika Belanda datang, maka masyarakat Indonesia mulai tahu bahwa ada yang namanya Bengkel sebagai tempat untuk reparasi kendaraan dan mesin.
Dan kata “Bengkel’ini, digunakan sebagai kata untuk meyebut Gudang perbaikan kendaraan, dan diserap kedalam kosa kata bahasa Indonesia sampai sekarang.
Kata “Allah” sama dengan bahasa Ibrani “Elohim”, bahasa Inggris “God”, bahasa Arab “Allah”, bahasa Aramik “Elah”, bahasa Yunani “Theos”.
Kata “Tuhan” sama dengan bahasa Ibrani “Adonai”, bahasa Inggris “Lord”, bahasa Arab “Raba”, bahasa Aramik “Marya”, bahasa Yunani “Kurios”.
Fakta
Beberapa orang Kristen yang alergi terhadap kata Allah sebenarnya sehubungan dengan klaim nama Allah yang identik dengan agama Islam di Indonesia. Seperti halnya Bus umum yang di klaim milik pribadi.
Ini hanyalah soal yang pertama memperkenalkan kata Allah diindonesia. Kalau seandainya orang Ibrani yang terlebih dahulu datang, maka kita Indonesia akan menyerap kata Elohim. Begitu juga jika orang Inggris, maka jadinya “God”.
Sedangkan kenyataannya, itu hanyalah gambaran skeptik yang berlebihan, sehingga menjadi fanatik dikalangan orang-orang Kristen sendiri.
Kata Allah tidak ada hubungannya dengan suatu nama agama tertentu, juga bukanlah nama suatu kalangan tertentu. Tapi suatu kata atau bahasa yang digunakan sebagai penyebutan, kepada suatu entitas yang tak terbatas dan berkuasa di jagad semesta ini sebagai “Yang Maha Kuasa” atau ''Yang Maha Esa''.
Sumber :
Alkitab/Bible
Ensiklopedia

No comments