Kebijakan Anti Kristen
Gambar diatas adalah lukisan karya Henryk Siemiradzki, 1897, di Museum Nasional, Warsawa. Seorang wanita Kristen mati sebagai martir di bawah pemerintahan Nero ketika mitos Dirce diberlakukan kembali.
Bermula ketika peristiwa kenaikan Yesus, yang diperkirakan sekitar tahun 30 – 33 masehi. Saat itu, pengikut Yesus sudah mendapat banyak penindasan oleh kalangan Yahudi dan Romawi, yang tidak setuju dengan ajaran-ajaran para rasul.
Penindasan ini juga dilakukan melalui pemberian berbagai macam hukuman, termasuk hukuman mati, seperti yang dialami oleh Stefanus (Kisah Para Rasul 7:59) dan Yakobus bin Zebedeus (Kisah Para Rasul 12:2).
Kisah Para Rasul 7:59;
Kisah Para Rasul 12:2;
Penindasan-penindasan berskala besar dilakukan oleh pemerintah Kekaisaran Romawi, dan pertama kali terjadi pada tahun 64 masehi, manakala Kaisar Nero mengambinghitamkan umat Kristen sebagai penyebab peristiwa kebakaran besar di Roma.
Menurut tradisi Gereja, pada masa penindasan Kaisar Nero inilah, para pemimpin Gereja Perdana, Petrus dan Paulus, wafat sebagai marthir di Roma.
Penindasan-penindasan yang lebih luas lagi, berlangsung selama masa pemerintahan sembilan Kaisar Romawi berikutnya, dan yang paling gencar terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Desius dan Kaisar Dioklesianus.
Penganiayaan-penganiayaan ini, sangat dipengaruhi oleh perkembangan Kekristenan, terbentuknya teologi Kristen dan struktur Gereja.
Kebijakan Anti Kristen di Kekaisaran Romawi terjadi dalam kurun waktu berselang selama sekitar tiga abad hingga tahun 313, ketika Kaisar Romawi Konstantinus Agung dan Lisinius, bersama-sama mengundangkan Maklumat Milan, yang mengesahkan agama Kristen atau Kristiani.
Penganiayaan terhadap umat Kristen, dapat ditelusuri secara historis berdasarkan laporan kitab suci, dan berbagai sumber sejarah, termasuk mengenai Yesus pada abad pertama era Kristen sampai dengan masa sekarang.
Umat Kristen awal, dianiaya karena iman mereka, baik oleh kaum Yahudi yang merupakan asal mula Kekristenan, maupun oleh Kekaisaran Romawi yang menguasai sebagian besar wilayah tempat tersebarnya Kekristenan awal.
Para misionaris Kristen, serta orang-orang yang mereka konversi ke dalam Kekristenan, menjadi sasaran penganiayaan dan terkadang hingga menjadi martir karena iman mereka.
Terdapat juga catatan sejarah tentang penganiayaan antar denominasi Kristen, yang dilakukan oleh suatu kalangan Kristen terhadap kalangan lainnya, terutama selama abad ke-16 dan sepanjang Abad Pertengahan.
Pada abad ke-20, umat Kristen dianiaya oleh berbagai kelompok, misalnya oleh negara-negara ateistik seperti Uni Soviet dan Korea Utara.
Setelah Revolusi Rusia 1917, kaum Bolshevik melakukan kegiatan besar-besaran untuk menghilangkan pengaruh Gereja Ortodoks Rusia dari pemerintah sambil melarang antisemitisme dalam masyarakat Rusia, serta mempromosikan ateisme.
Kritik terhadap ateisme dilarang keras dan terkadang menghasilkan hukuman penjara. Beberapa individu terkenal yang dieksekusi termasuk Metropolitan Benyamin dari Petrograd, imam dan ilmuwan Pavel Florensky dan Uskup Gorazd Pavlik.
Selama Perang Dunia II, jemaat dari beberapa gereja Kristen mengalami penganiayaan di Jerman karena menolak ideologi Nazi.
Menurut International Christian Concern (ICC), penganiayaan terhadap umat Kristen telah meningkat di India belakangan ini.
Open Doors (Britania Raya), sebuah organisasi misioner Kristen, memperkirakan 100 juta umat Kristen mengalami penganiayaan, khususnya di negara-negara Timur Tengah Dan Asia Selatan.
Meski dengan berbagai macam teror, persekusi, penganiayaan, maupun pembunuhan, namun umat Kristen sanggup bertahan. Bahkan menjadi agama terbesar didunia secara denominasinya.
Hal itu tidak lain karena penyertaan Tuhan kita Yesus Kristus, yang dahulu sudah lebih dulu dianiaya dan mati bagi dosa dunia.
Kebangkitan-Nya menyatakan kemuliaan dan kebenaran Allah, sebagai satu-satunya penguasa semesta dan hakim bagi segala ciptaan.
Sumber Referensi :
Alkitab/Bible
https://id.wikipedia.org/wiki/Kekristenan

No comments