Gelap Gulita dan Gempa Bumi Saat Penyaliban Yesus
Satu hal yang saya pahami bahwa gelap gulita selama 3 jam dan gempa bumi yang menyebabkan bait Allah terbelah dua saat peristiwa penyaliban Kristus, bukanlah fenomena biasa atau hanya sekedar tanda bahwa Yesus adalah putra Allah.
Tapi juga menyimpan misteri yang sungguh sangat mengerikan jika kita bayangkan. Dan ini berhubungan dengan doa Yesus ditaman Getsemani.
Saya sangsi bahwa Sebagian besar umat Kristen masih beranggapan bahwa doa Yesus tidak terkabulkan oleh Bapa sotgawi.
Sehubungan dengan isi permohonan dalam doa Yesus, yang seolah-olah meminta supaya penderitaan-Nya tidak terjadi.
Dan seperti yang kita ketahui bahwa Yesus tetap melewati penderitaan-Nya dan mati dikayu salib. Yang selama ini dipahami sebagai kehendak dan ketetapan Allah Bapa.
Tapi apa yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya, sejak awal Kristus tahu betul sebab kedatangan-Nya sebagai manusia ke dunia, Dia Firman Allah yang mengerti kehendak Bapanya.
Dan sejak purbakala Dia sudah dinyatakan Allah sebagai juruselamat dunia. Jadi sudah pasti Ia siap dan rela memenuhi kehendak Bapanya.
Kesalahpahaman disini adalah kita yang tidak benar memahami karakter Allah dalam keallahan-Nya dan dalam kemanusiaan-Nya.
Sehingga doa Yesus kita pahami dari sisi psikologi kita manusia biasa yang dalam kondisi tersebut, lahiryah kita tentu mengingnkan penderitaan itu tidak terjadi.
Ini disebabkan istilah ‘’cawan’’ yang Kristus gunakan dalam doa-Nya. Bukan merujuk pada penderitaan istilah cawan tersebut Yesus gunakan, tapi merujuk kepada ‘’murka Allah’’.
Dan murka Allah ini dimaksudkan agar tidak terjadi saat Kristus dianiaya oleh orang-orang berdosa, yang dapat menyebabkan kegagalan misi penebusan.
Karena bagaimanapun, Allah adalah otoritas tertinggi dialam semesta ini, dan Dia berkuasa merubah maupun menentukah segala ketetapan-Nya.
Hal itulah yang ditakutkan Kristus bahwa Allah mengasihi-Nya dan mampu merubah ketetapan-Nya dengan cara-Nya sendiri.
Yohanes 3 : 16;
Jadi inilah yang sebenarnya terjadi, bahwa permohonan Kristus dikabulkan dan kehendak Allah terjadi serta misi penebusan dosa terlaksana.
Mengherankan bukan ?, tapi itulah kenyataanya Tuhan Allah kita, Dia pemenang dan menang seluruhnya.
Bagaimana dengan peristiwa gelap gulita dan gempa bumi saat penyaliban Yesus?, apa kaitannya dengan ‘’cawan murka Allah’’?, dan mengapa itu terjadi?!.
Bayangkan secara psikologi tentang seseorang yang dalam kondisi murka yang menyala-nyala atau marah besar melihat anaknya dihina, dianiaya dan dibunuh tanpa dosa, namun harus menahan amarahnya demi kebaikan masa depan.
Demikian juga Allah, yang menahan amarah-Nya, melihat anak-Nya yang Tunggal harus menderita ditangan manusia berdosa, demi rencana-Nya untuk menyelamatkan dunia dari dosa.
Dalam kesedihan-Nya, dunia merasakan gelap gulita selama tiga jam lamanya, yang seakan-akan Allah menutup mata saat putra yang dikasihi-Nya mati dikayu salib.
Dan dalam menahan kegeraman murka-Nya, dunia merasakan gempa dasyat yang mampu membelah Bait Allah menjadi dua.
Dan apa yang terjadi yang kita syukuri bahwa murka Allah tidak terjadi dan Kristus menang mengalahkan dunia, sehinga setiap orang, dapat beroleh keselamatan dalam nama-Nya.
Sumber :
Alkitab/Bible

No comments