Apakah Persembahan Persepuluhan Suatu Kewajiban Dalam Iman Kristen
Persembahan persepuluhan dalam Kekristenan merupakan suatu adopsi dari ketetapan hukum Taurat dalam agama Yahudi sejak zaman Musa sampai dengan hari ini.
Persepuluhan adalah satu dari sekian banyaknya doktrin Kekristenan yang menimbulkan perdebatan. Ada yang menganggap sebagai suatu kewajiban, tapi ada juga yang merasa bukan sesuatu yang penting.
Pertanyaan umum yang biasanya ditanyakan adalah, bisakah seseorang itu memberi dengan motivasi baik sementara ia merasa terbebani?.
Jawabannya sederhana, jika iman menjadi suatu beban, maka sebaiknya tidak usah beriman. Apakah Persembahan Persepuluhan Suatu Kewajiban Dalam Iman Kristen?,
Yang paling dasar dan bagaimana persepuluhan itu dilakukan dalam Kekristenan, ada dalam penjelasan berikut.
Dasar Iman Persembahan Persepluhan
Kejadian 14:20;
Bukanlah suatu kewajiban Abraham memberikan sepersepuluh dari harta rampasannya, tapi suatu bentuk ucapan syukur karena inisiatifnya sendiri setelah kemenangannya.
Meski sepersepuluh dari persembahannya itu berasal dari rampasannya, namun sesuatu yang berkenan kepada Allah. Sebab, Abraham adalah pemilik janji, dan seseorang yamg diperkenankan Allah.
Muncul kedua kalinya ketika Yakub bernazar memohon penyertaan Tuhan saat pelariannya dari kakaknya Esau.
Kejadian 28:22;
Jadi, bukan juga sebagai kewajiban, tapi keinginan perorang melalui nazar diri yang dinyatakan dalam bentuk persepuluhan.
Nazar ini tidak harus dalam bentuk yang sama, namun bisa berbentuk persembahan lain dengan maksud sebagai pertaruhan keyakinan dan menepati komitmen kepada Allah.
Persepuluhan Dalam Perjanjian Baru
Matius 23:23;
Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan’’
Ini ditujukan kepada ahli-ahli Taurat dan orang Farisi mengenai bagaimana sebenarnya ketetapan hukum harusnya dilakukan.
Bukan hanya persembahan yang dilakukan, tapi kasihlah yang utama dari semua itu. Dalam hal menaati hukum Taurat, adalah menaati juga segala ketentuannya tanpa terkecuali.
Disini kita bisa melihat bahwa Kristus menjelaskan secara penuh maksud utama dari ketetapan yang berlaku dalam hukum Taurat.
Bukan ditujukan kepada semua kalangan tapi hanya kepada siapa yang menuruti dan menaati hukum Taurat dan hidup menurut hukum tersebut.
Sedangkan bagi orang Kristen yang hidup menurut kasih karunia, persembahan persepuluhan bukanlah sesuatu yang wajib dilakukan. Berikut alasannya.
Berdasar pada kasih karunia melalui Yesus Kristus Tuhan kita, umat Kristen terus dimurnikan dalam pembaharuan roh dan kebenaran. Tidak lagi hidup dibawah hukum Taurat, melainkan kasih karunia yang Allah telah anugerahkan.
Maka dari itu, segala hal mengenai ketetapan dan tradisi dalam hukum Taurat, menjadi tidak lagi penting bagi umat Kristen.
Meski pada kenyataannya, beberapa aliran gerejawi terus mempraktekan aturan-aturan dalam bentuk hukum Taurat, tapi semua itu tidaklah berarti sebagai suatu kewajiban, tapi semacam kesepakatan beragama yang dirasa perlu atau cocok dengan kondisi gerejawi.
Dalam hal ini, tidak seorangpun juga yang mengaku dirinya sebagai pengikut Kristus mewajibkan hukum Taurat diberlakukan sebagai suatu kewajiban.
Adapun mengenai persembahan persepuluhan yang diberlakukan dibeberapa aliran gereja ternama, tentunya memiliki dasar dan sebab mengapa itu seakan diwajibkan.
Inti dari apa yang sebenarnya menyerupai suatu bentuk adobsi hukum taurat adalah pada nilai-nilai budaya, tradisi dan keadaan sosial umat Israel yang seakan sama dengan kondisi pelayanan gereja saat ini.
Pesepuluhan Gerejawi
Pada umumnya, persembahan persepuluhan dalam hukum Taurat diberlakukan setelah ditetapkannya suku Lewi sebagai suku yang ditunjuk dan memiliki tugas khusus melayani bait Allah (Bilangan 8:18-22).
Adapun segala pelayanan dibait Allah hanya dilakukan oleh suku Lewi, maka segala hal mengenai kebutuhan hidup suku inipun, ditanggung oleh kesebelas suku Israel yang lain.
Kontras dengan pelayanan gereja saat ini. Karena bentuk dari pelayanan gereja yang serba intens, maka ditetapkan pula pelayan gereja yaitu Pendeta, Pastor, Gembala atau juga disebut sebagai hamba Tuhan sebagai orang yang memiliki otoritas pada masing-masing jemaat gerejanya.
Hal tersebut menimbulkan semacam kesan pelayanan khusus, yang juga memerlukan kendali terhadap peran maupun kebutuhan hidup pelayan gereja tersebut.
Galatia 6:6;
Maka disepakatilah segala bentuk persembahan khusus seperti halnya persepuluhan sebagai bagian lain dari apa yang menjadi hak hamba Tuhan dalam pelayanannya.
Hal itu diatur pada masing-masing aliran gereja secara penuh dan konsisten disepakati sebagai salah satu fungsi dalam eksistensi gerejawi.
Jadi, persembahan persepuluhan dalam hukum taurat diberlakukan pada kondisi sosial umat Israel, sementara dalam persekutuan gerejawi, diberlakukan atas dasar kesepakatan sesuai pengertian melalui nilai-nilai moral dan iman.
Persepuluhan Khusus
Persembahan persepuluhan dalam bentuk yang khusus, dilakukan sebagai ucapan syukur dan nazar secara pribadi tanpa adanya paksaan dari gerejawi.
Merupakan sukacita iman yang mendorong setiap orang untuk memberi persepuluhannya dalam luapan Syukur maupun nazar.
Dalam kitab perjanjian baru, ada 3 alasan mengapa persembahan persepuluhan masih dilakukan, meski hukum taurat sudah digenapi.
1. Ucapan Syukur
1 Tesalonika 5:18
Tidak ada bedanya dengan ucapan syukur yang dilakukan Abraham, didalam iman Kristenpun sama. Persembahan persepuluhan karena ucapan syukur adalah bentuk iman setiap orang dalam hal memuliakan Allah.
Bentuk ucapan syukur dalam iman Kristen sangat bervariasi, yang antaranya berkat yang berbentuk kelimpahan, pertolongan, ketambahan umur, penyertaan Tuhan dan lain sebagainya.
Ucapan syukur tidak pernah hilang sejak zaman bapa leluhur Israel sampai dengan sekarang dan sampai akhir zaman.
2. Nazar
Kisah Para rasul 18:18;
Memang tidak ada anjuran atau perintah khusus mengenai nazar dalam pekabaran injil. Tapi pada ayat tersebut jelas bahwa nazar tidak pernah hilang dan merupakan suatu bentuk lain dari iman kepada Allah.
Nazar inipun tidak berbeda dengan nazar yang dilakukan Yakub dan umat Israel. Meski berbentuk persembahan persepuluhan tidak pernah hilang sejak dahulu kala.
Bukan karena ketetapan hukum, melainkan keinginan diri yang meyakini eksistensi Allah berpengaruh didalam kehidupan seseorang.
Dan nazarpun tidak bisa dilarang sebagai sesuatu yang salah, karena merupakan bentuk iman orang Kristen dalam hal mengakui dan memuliakan Allah.
3. Persekutuan
1 Korintus 16::1;
Ini menjadi suatu kewajiban ketika ada kesepakatan dalam suatu gereja karena beberapa alasan, seperti peran pelayanan khusus, juga sebagai sesuatu yang dirasa perlu untuk kebangkitan dan pembangunan gereja.
2 Korintus 9:7;
Karena tidak ada paksaan, maka segala macam jenis persembahan gerejawi sebenarnya berbasik pada iman dan konsekuensi kepercayaan.
Jadi, persembahan persepuluhan dalam hukum Taurat adalah suatu kewajiban atau ketentuan hukum yang harus dilakukan.
Sedangkan dalam iman Kristen adalah sesuatu yang bukan kewajban, tetapi juga tidak dilarang sebagai bagian dari adobsi nilai-nilai budaya dari mana keselamatan itu datang.
Dan nilai-nilai tersebut terus dipertahankan sebagai sesuatu yang dirasa perlu dan juga merupakan sukacita iman orang percaya hingga sekarang dan sampai Kristus datang kembali.
Sumber Referensi:
Alkitab/Bible

No comments